Tampilkan postingan dengan label rumah subsidi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah subsidi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 September 2016
Developer Paparkan Sejumlah Masalah Program Rumah Subsidi
Program rumah subsidi di Indonesia sangat diminati oleh masyarakat Indonesia, khususnya para pencari rumah pertama (first time buyer).
Harga yang terjangkau, uang muka dan cicilan yang rendah menjadi daya tarik rumah subsidi. Namun, di sisi pengembang, program rumah subsidi memiliki beberapa kekurangan.
Irfan Firmansyah, Ketua REI Jawa Barat (Jabar), mengatakan bahwa sedikitnya ada tiga kekurangan dalam pelaksanaan program rumah subsidi dari kaca mata pengembang.
Selasa, 19 Januari 2016
Tahun Ini, REI Bangun 240 Ribu Rumah Subsidi
RumahCom – Memasuki 2016, persatuan perusahaan Real Estat Indonesia (REI) menargetkan pembangunan 240 ribu rumah subsidi. Hal ini sebagai salah satu bentuk dukungan REI terhadap Program Sejuta Rumah yang dibesut pemerintah tahun lalu.
“Kami optimistis Program Sejuta Rumah dapat berjalan lebih efektif di tahun ini. Banyak sekali perubahan dan perbaikan yang dilakukan pemerintah. Kami akan terus mengawal di lapangan agar semua perubahan dan perbaikan ini berjalan secara efektif secara operasional,” papar Eddy Hussy, Ketua Umum DPP REI kepada sejumlah wartawan, Senin (18/1).
Eddy mengatakan, realisasi pembangunan rumah subsidi—dengan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP)—selama 2015 yang mencapai 164.360 unit sudah cukup baik, mengingat Program Sejuta Rumah baru dicanangkan akhir April 2015.
“Di tahun ini, kami menargetkan pembangunan 240.000 unit rumah subsidi lewat pembiayaan FLPP. Ini adalah target yang realistis dan kami akan melakukan evaluasi terus menerus untuk melihat perkembangan yang terjadi,” imbuhnya.
Terkait dengan kenaikan harga rumah subsidi tahun ini, Eddy mengatakan hal tersebut tak akan berpengaruh pada penyerapan rumah subsidi. Justru kenaikan harga yang cuma 5% per tahun itu terlalu rendah, sehingga suplai bisa habis. Karena harga lahan naik lebih tinggi dibanding harga material.
Menyoal beberapa daerah yang tak bisa menyuplai rumah subsidi, seperti Yogyakarta dan Bali—dimana harga lahan sudah terlalu tinggi untuk dibangun rumah subsidi—REI mengusulkan kepada Pemerintah agar mengucurkan “KPR FLPP paket kedua” untuk membiayai masyarakat dengan penghasilan Rp4 juta – Rp7 juta per bulan.
“Seiring dengan meningkatnya urbanisasi, kebutuhan perumahan banyak di perkotaan yang padat penduduk. Umumnya masyarakat perkotaan memiliki penghasilan di atas Rp4 juta per bulan. Mereka tak bisa mengakses rumah subsidi, tetapi juga tak mampu membeli rumah, karena harga rumah sudah tinggi,” jelas Eddy. “Untuk itulah KPR FLPP paket kedua diperlukan.”
Anto Erawan
Penulis adalah editor Rumah.com. Untuk berkomunikasi dengan penulis, Anda dapat mengirim email ke: antoerawan@rumah.com atau melalui Twitter: @AntoSeorang
Penulis adalah editor Rumah.com. Untuk berkomunikasi dengan penulis, Anda dapat mengirim email ke: antoerawan@rumah.com atau melalui Twitter: @AntoSeorang
Sumber : Rumah.Com
Baca juga produk bisnis properti :
- Langkah Cerdas Untuk Menjadi Developer Properti
- Sofware Informasi Developer Properti
- Cara Jualan Properti via Online
- 50.000 Contoh Desain Rumah Impian Anda
- Langkah Kreatif dan Adaptif Menjadi Developer
- Langkah Cerdas Menguasai SEO
- Jual Paket Desain Rumah
- Software SOP Perumahan nDalem Property
Kamis, 04 Juni 2015
Cicilan Rumah Subsidi Hanya Rp500 Ribu per Bulan!
Program sejuta rumah yang diluncurkan pemerintah akhir April lalu, menawarkan beragam kemudahan. Selain uang muka yang hanya 1%, cicilan rumah pun sangat terjangkau, yaitu Rp500 ribu – Rp600 ribu per bulan.
Di sisi lain, rumah subsidi dengan tenor 20 tahun ini mematok bunga KPR 5%, turun dari sebelumnya sebesar 7,5%.
“Rumah murah ini akan dibangun di seluruh provinsi di Indonesia secara bertahap,” kata Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Syarif Burhanuddin kepada Liputan6.com.
Dia menuturkan, ketentuan untuk mendapatkan kemudahan ini, konsumen harus memiliki pendapatan maksimal Rp4 juta per bulan. Sedangkan untuk rumah susun, penghasilan maksimal Rp7 juta per bulan.
“Kalau bicara satu juta rumah, targetnya tidak cuma masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), tapi non MBR juga bisa membelinya,” terangnya.
Namun bedanya, masyarakat non MBR tidak bisa mendapatkan subsidi dari pemerintah. Dari total sejuta rumah yang dibangun, sekitar 600 ribu unit rumah dialokasikan untuk masyarakat berpenghasilan rendah.
Sumber : Rumah.Com
Dapatkan juga Produk Properti disini :
- Langkah Cerdas Untuk Menjadi Developer Properti
- Sofware Informasi Developer Properti
- Cara Jualan Properti via Online
- 50.000 Contoh Desain Rumah Impian Anda
- Langkah Kreatif dan Adaptif Menjadi Developer
- Langkah Cerdas Menguasai SEO
- Jual Paket Desain Rumah
- Software SOP Perumahan nDalem Property










