Sumber : KOMPAS.Com
Sharing seputar produk properti :
e-book :
- Langkah Cerdas Untuk Menjadi Developer Properti, klik DISINI
- Langkah Kreatif dan Adaptif Menjadi Developer, klik DISINI
- Langkah Cerdas Menguasai SEO, klik DISINI
- Cara Jualan Properti via Online, klik DISINI
- Software Informasi Pemasaran Developer Properti, klik DISINI
- Software SOP Perumahan nDalem Property, klik DISINI
Paket CD :
- 50.000 Contoh Desain Rumah Impian Anda, klik DISINI
- Jual Paket Desain Rumah, klik DISINI
"Tantangan yang ada, Indonesia kekurangan jumlah insinyur. Kita punya 3.000 insinyur per satu juta penduduk. Di negara lain, jumlah insinyur di atas 4.000 orang per satu juta penduduk," ujar Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Hermanto Dardak, Kamis (31/12/2015).
Hal ini menunjukkan bahwa tren menjadi insinyur di Indonesia tidak semenarik di luar negeri. Menurut dia, salah satu cara membangun minat para mahasiswa untuk menjadi insinyur adalah dengan mendokumentasi semua proyek signifikan, terutama mega proyek.
Dokumentasi proyek-proyek ini bisa dikumpulkan mulai dari awal sampai akhir. Praktisi pembangunan, perlu membagikan pengalaman membangun proyek-proyek misalnya Mass Rapid Transit (MRT), Jembatan Suramadu, atau terowongan-terowongan.
Dengan begitu, kata Hermanto, para pelajar mulai dari SD sampai SMA tertarik untuk mempelajari bidang keinsinyuran. Lebih jauh lagi, para pelajar ini juga berminat untuk menjadi seorang insinyur.
Sumber : KOMPAS.Com
Selain itu, tidak hanya dari segi jumlah, insinyur juga perlu meningkatkan kualitas dengan mempelajari teknologi.
Saat ini, banyak material yang dibuat menjadi lebih kecil atau tipis, tetapi dengan performa atau kinerja lebih tinggi.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh anggota Dewan Insinyur PII, Rully Chairul Azwar. Kurangnya kapasitas insinyur disebabkan karena waktu pendidikan formal dan profesi yang cukup lama.
"Mereka harus magang juga, padahal kebutuhan insinyur kita 4.500 per satu juta penduduk. Kita punya 750.000 insinyur, tetapi masalahnya tidak semua kerja di bidangnya. Yang bekerja menjadi insinyur paling kurang dari 40 persen," pungkas Rully.
Hal ini menunjukkan bahwa tren menjadi insinyur di Indonesia tidak semenarik di luar negeri. Menurut dia, salah satu cara membangun minat para mahasiswa untuk menjadi insinyur adalah dengan mendokumentasi semua proyek signifikan, terutama mega proyek.
Dokumentasi proyek-proyek ini bisa dikumpulkan mulai dari awal sampai akhir. Praktisi pembangunan, perlu membagikan pengalaman membangun proyek-proyek misalnya Mass Rapid Transit (MRT), Jembatan Suramadu, atau terowongan-terowongan.
Dengan begitu, kata Hermanto, para pelajar mulai dari SD sampai SMA tertarik untuk mempelajari bidang keinsinyuran. Lebih jauh lagi, para pelajar ini juga berminat untuk menjadi seorang insinyur.
Sumber : KOMPAS.Com
Selain itu, tidak hanya dari segi jumlah, insinyur juga perlu meningkatkan kualitas dengan mempelajari teknologi.
Saat ini, banyak material yang dibuat menjadi lebih kecil atau tipis, tetapi dengan performa atau kinerja lebih tinggi.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh anggota Dewan Insinyur PII, Rully Chairul Azwar. Kurangnya kapasitas insinyur disebabkan karena waktu pendidikan formal dan profesi yang cukup lama.
"Mereka harus magang juga, padahal kebutuhan insinyur kita 4.500 per satu juta penduduk. Kita punya 750.000 insinyur, tetapi masalahnya tidak semua kerja di bidangnya. Yang bekerja menjadi insinyur paling kurang dari 40 persen," pungkas Rully.
Sumber : KOMPAS.Com
Baca juga produk bisnis properti :
- Langkah Cerdas Untuk Menjadi Developer Properti
- Sofware Informasi Developer Properti
- Cara Jualan Properti via Online
- 50.000 Contoh Desain Rumah Impian Anda
- Langkah Kreatif dan Adaptif Menjadi Developer
- Langkah Cerdas Menguasai SEO
- Jual Paket Desain Rumah
- Software SOP Perumahan nDalem Property








0 komentar:
Posting Komentar